THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 15 Januari 2010

mengharap surga,,,

disuatu malam yang penuh hingar bingar di sebuah pulau yang indah seorang pria tampak tegang menunggu sesuatu ditengah-tengah orang-orang yang menikmati indahnya lampu kota malam hari,, pria itu terus mengeluarkan keringat disukujur tubuhnya,, sembari mengucap kan sesuatu setengah berbisik yang membuat bibirnya terus bergerak,, dalam mobilnya dia terus menunggu waktu yang hanya sekitar 5 menit lagi tapi mungkin terasa seperti 5 hari,,
akhirnya waktunya telah tiba,, sesuatu yang dibawa pria itu meledak,, memuntahkan bergagai macam paku, gotri dan besi besi kecil lainnya,yang dipacu oleh c4,, semua yang ada disekitarnya menjadi korban tidak perduli laki-laki,, perempuan,, atau security yang menjaga tempat itu,, pria itu tidak menyesal,, keluarganya pun bahagia,, karena pria muda tadi akan masuk ke surga lewat jalan yang sangat lapang dan singkat.
ilustrasi diatas menunjukan betapa gelap matanya manusia akan kemegahan surga, yang terkadang sampai menyingkirkan nalarnya, karena jika menyelidiki tentang syarat untuk kesurga dan disinergikan dengan sifat dasar manusia,, tempat itu adalah BUKAN untuk manusia.

coba sedikit kita bertanya dan menggunakan sedikit nalar,,

1. surga mana kah yang asli,,??
islam memiliki surga mereka,, dengan syarat" mereka sendiri,, dan promo mereka sendiri,, begitu jg dengan kristen,, dan semua agama lain seperti budha yang harus mengalami pemurnian dalam reinkarnasi dan lain",,
lalu surga manakah yang benar??
ada berapa banyak surga??
atau surga merupakan tempat dengan blok" seperti kuburan??

2.dimana letak surga?
dalam alam roh,, dimana tubuh kita tidak ikut didalamnya,, lalu kenapa hal" yang dijanjikan tentang surga itu selalu tempat yang indah dengan sungai mengalir ,, alam yang hijau dan semua fasilitas,,
hei yang bisa merasakan, melihat alam dan sungai" itu mata,, kulit kita atau syaraf bahagia dalam otak kita,,jadi bagaimana bisa roh yang tidak berwujud bisa merasakan itu ( hal ini jg berlaku pada neraka, yang membuat kita merasakan panas,, sakit dan lain" itu kulit dan syaraf sakit diotak kita bukan roh )
atau kita akan dibangkitkan dan direkondisi ketika akan memasuki surga,, jadi surga itu tempat yang berwujud nyata?
dimana letaknya?

3. syarat masuk surga,,
dalam semua agama syarat-syarat lain selain mengimani tuhan mereka masing-masing,, syaratnya adalah berbuat berbagai macam hal yang sepertinya hanya bisa dijalankan oleh suatu makhluk yang sempurna ( yang tentunya bukan manusia,, karena manusia bukanlah makhluk sempurna ),,

ambil contoh =
*didalam kristen contoh perbuatan yang bisa dikategorikan dalam syarat masuk surga :
tubuh kita adalah bait allah yang mengharuskan kita untuk menjaganya,, jika kita menyakiti tubuh kita kita juga mengotori bait allah,, jika kita merokok itu akan termasuk dalam perusakan tubuh,
rokok?? oke itu bisa diterima,, bagaimana jika fast food??
atau makanan lain seperti mie instan yang mungkin menimbulkan kanker atau penyakit jantung atau lainnya??
atau jika kita adalah seorang pemain tinju atau olahraga keras lainnya??
-kita sudah dicoret dari daftar surga,,
*didalam kristen lagi , menurut perkataan jesus kristus kepada murid"nya tentang bahwa penghuni surga adalah anak" kecil itu atau mereka yang seperti anak" itu,, tentu saja itu merupakan sebuah perumpamaan,, karena anak" melambangkan sesuatu yang polos dan naif yang tidak pernah meragukan sesuatu atau percaya penuh pada sesuatu,, atau bisa diumpamakan anak" kecil itu adalah sesuatu yang jauh dari dosa,,
apakah ada yang merasa seperti itu dalam kehidupan kita di jaman ini?? karena mungkin dijaman ini anak" kecil sudah melakukan banyak hal berdosa ( menurut agama ) sama / lebih banyak daripada kita,,

*sedang didalam islam,,Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.
terlihat sederhana, tapi yang merupakan amalan saleh itu sangat banyak,,
mungkin kita bisa membicarakan sesuatu yang merusak amal saleh itu sendiri,, atau sesuatu yang dilarang,,
a) Istighalu bi uyubil khalqi. Sibuk mengurus kesalahan orang lain. Semua kesalahan orang lain, sekecil apa pun, diketahui. Tapi kesalahan sendiri, sebesar apa pun, dilupakan. Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak, kata peribahasa. Akibatnya, seseorang atau setiap orang sibuk mencari, mencatat, menggugat dan mempermasalahkan kesalahan orang lain. Sehingga persoalan tak beres-beres. Apalagi jika orang yang bersalah itu tidak mau menerima koreksi dari orang lain yang dianggapnya sama-sama punya kesalahan.

b) Qaswatul qulub, keras hati. Ini akibat dihinggapi anasir-anasir riya, ujub, takabbur dan hasud. Pemilik hati yang berpenyakit itu, sangat menganggu keharmonisan hidup bersama. Sebab selalu ingin menonjolkan diri ingin mendapat pujian (riya), menganggap remeh orang lain (takabbur), merasa hebat sendiri tanpa memerlukan orang lain (ujub), tak suka melihat orang lain punya kelebihan (hasud).

c) Hubbud dunya, cinta dunia. Sangat mementingkan materi, tanpa memedulikan urusan halal dan haram. Yang penting banyak uang, banyak kekayaan. Tanggung jawab di akhirat, bagaimana nanti. Yang penting, ambisi-ambisi duniawi terpenuhi. Sudah kaya raya, ingin mempunyai jabatan pula. Sudah meraih jabatan, ingin berkuasa pula. Begitu terus tak ada ujungnya.

d) Qillatul haya, tak punya rasa malu. Berbuat apa saja, termasuk melanggar hukum dan norma, acuh tak acuh saja. Korupsi, kolusi, nepotisme, dilakukan terang-terangan. Berbohong, manipulasi, menyembunyikan kebenaran, sudah menjadi kebiasaan. Berbuat mesum dan merusak etika tata krama, tanpa tedeng aling-aling. Berbagai alasan disediakan untuk melegitimasi hal-hal itu. Tapi semuanya tetap mengacu kepada ketiadaan rasa malu.

e) Thulul amal, panjang angan-angan. Mengumbar ambisi dan rencana tanpa ditunjang kesiapan perangkat yang memadai. Hanya mengandalkan fantasi dan untung-untungan. Siapa tahu ada invisible hand yang tiba-tiba datang mengulurkan bantuan untuk mewujudkan semua khayalan. Di tengah situasi dan kondisi hukum yang rancu, keadilan tidak merata, dan kejujuran hanya sebatas omong kosong, mungkin saja perilaku gambling dapat mendatangkan hasil di luar dugaan.

f) Dzalimu la yantahi, berbuat zalim tanpa henti. Dzalimu li nafsi (zalim kepada diri sendiri), yaitu merusak hak dan kewajiban diri sendiri sebagai hamba Allah SWT yang harus taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dzalimu lil insan, zalim kepada sesama manusia, selalu berbuat hal-hal yang merugikan orang lain. Dzalimu lillahi ta’ala, zalim kepada Allah SWT, membangkang kepada segala perintah-Nya untuk berbuat baik dan benar, serta melanggar larangan-Nya untuk menjauhi segala yang diharamkan. Sikap zalim terus-menerus ini, akan menjadi sumber bencana kehancuran tatanan hidup manusia dan kemanusiaan yang menyeluruh. Q.S. Yunus:13 menyatakan, kehancuran umat terdahulu disebabkan mereka terbiasa berbuat zalim.

walau pun cuma 6 tapi jika dipecah menjadi sub-sub lagi akan menjadi teramat sangat banyak,,
ambil contoh membicarakan orang lain yang termasuk Istighalu bi uyubil khalq,,
yang hampir kita lakukan setiap menit,,
atau memikirkan hal-hal dunia ( seperti bekerja ) sampai melupakan sholat yang termasuk dalam perbuatan Hubbud dunya,, dan masih banyak lagi yang membuat kita semua juga dipastikan tercoret dalam daftar surga,,

mungkin sebagian beralasan bahwa kita juga punya pahala atau perbuatan baik yg kita lakukan untuk menutupi dosa kita,,
silahkan kalkulasikan sendiri perbandingan dosa dan amal baik kita,, yang PASTI dosa yang jauh lebih banyak,, jika memang surga merupakan perhitungan kalkulasi baik buruk atau hitam putih,,
dan sangatlah beralasan jika kita melakukan semua hal-hal itu,, karena sifat dasar manusia adalah nyaris sama dengan binatag,, sangat liar,,

jadi menurut saya surga yang ada didalam kitab merupakan perumpamaan tentang kehidupan bahagia dan tenang dan sehat kita jika kita melakukan hal-hal yang baik dan sebaliknya neraka adalah suatu keadaan tidak menyenangkan dimana kita tertekan atau sebuah perasaan bersalah ketika kita melakukan hal yang buruk,,dan masa depan kita yang suram jika kita tidak menjalani kehidupan kita dengan buruk dan tidak teratur,,
atau contoh dibenci orang karena suka membicarakan orang lain sehingga kita dikucilkan dan dengan kata lain menyusahkan diri kita,,
atau contoh lain Thulul amal, kita tidak akan menjadi orang yang sukses jika kita berbuat seperti itu,,
karena memang benar seperti apa kata kitab,, apa yang kita tuai adalah apa yang kita tabur,, tetapi semua itu terjadi dibumi tidak di surga atau di neraka,,

yang manakah kalian?

Menjadi Manusia Kebanyakan atau Menjadi Manusia Unggul [Regelmäßiger Mann zu sein, oder überlegener Mann zu sein]

Tulisan kali ini memiliki kaitan dengan pemikiran Friedrich Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra, salah satu buku yang menjadi simbol awal kehancuran modernisme [dunia yang mengganggap bahwa kebenaran hanya ada "satu"], dan pengantar ke dunia postmodernisme [dunia yang mengganggao bahwa terdapat pluralitas kebenaran].

Dalam Thus Spoke Zarathustra -nya, Nietzsche berkali-kali menyindir tentang mayoritas manusia zaman sekarang, yang terlalu puas dengan dirinya sendiri, dan terlalu puas dengan kondisi sosial yang membentuk dirinya.

Nietzsche menekankan pentingnya peran seorang individu dalam dua hal:
1. Mendobrak batas-batas baik dan buruk dirinya sendiri. Untuk menjadi individu yang "melebihi" dirinya sendiri. "Melebihi" ekspektasinya sendiri. Menjadi ubermensch.
2. Membentuk "nilai-nilai". Daripada mencoba mengikuti "nilai-nilai masyarakat kebanyakan", Nietzsche merindukan individu yang yang membentuk nilai-nilai, berupaya mendobrak tatanan nilai yang sudah mapan, dan muncul ke permukaan dengan nilai-nilainya tersebut, untuk menjadi "cahaya" yang menerangi peradaban manusia, yang kata Nietzsche, sudah "diinfiltrasi" oleh terlalu banyak kehadiran tuhan-tuhan palsu.
Dan ketika seorang individu telah melebihi dirinya sendiri, bahkan dalam terminologi baik dan buruk sekalipun, serta membentuk nilai-nilai yang baru, nilai-nilai yang "tidak sama" dengan nilai masyarakat kebanyakan, ada tugas-tugas yang lebih spesifik bagi sang manusia unggul tersebut.
Yaitu:

Membunuh tuhan-tuhan palsu
Minimal dilakukan dalam diri sendiri, untuk kemudian, menjadi contoh bagi orang-orang yang lain tentang buruknya efek tuhan-tuhan palsu. Tuhan palsu yang dimaksudkan Nietzsche di sini adalah "kesepakatan-kesepakatan" "pendapat-pendapat umum" baik yang tertulis, maupun yang tidak tertulis. Baik yang "melembaga" maupun "tidak melembaga namun mengakar secara tradisional". Tuhan-tuhan palsu ini, menjadi "ruh" yang dipuja-puji dalam kehidupan manusia, menggantikan Tuhan yang Esa. Karena itu, manusia harus muncul ke permukaan, untuk membunuh tuhan-tuhan palsu.

Seperti yang diutarakan sebelumnya, Nietzsche mengungkapkan, terdapat dua jenis manusia, manusia unggul dan manusia kebanyakan.
Klasifikasi yang diberikan Nietzsche ini, tidak sama dengan klasifikasi hitam-putih yang terdapat di dunia masa kini seperti kaya-miskin, baik-buruk, sukses-gagal. Klasifikasi dari Nietzsche ini melampaui konsep-konsep sederhana dari realitas.

Nietzsche menyatakan bahwa kesuksesan sejati adalah kesuksesan yang dibawa oleh manusia unggul. Manusia unggul hidup berdasarkan nilai yang dicita-citakan, membuat dunia sekitarnya lebih berwarna, dan hidup dengan "memberi kehidupan" kepada banyak orang, bukan dengan "mengemis kehidupan". Namun, di lain sisi, manusia unggul memikul beban yang sangat berat. Beban dari nilai-nilai yang ditanggungnya, beban dari masalah-masalah sosial yang tidak terselesaikan dan/atau tidak dapat dilihat oleh mata orang-orang biasa.

Sebagai antitesis dari manusia unggul, ialah manusia kebanyakan. Menurut Nietzsche, manusia kebanyakan adalah manusia yang sering mengakui dirinya unik, punya ciri khas, ingin diakui, ingin bahagia, ingin selamat, ingin harmonis, tapi selalu mengekor di balik bayang-bayang mayoritas, dan menutupi ego-egonya yang berbahaya dengan label "legalitas di mata mayoritas". Manusia kebanyakan adalah golongan manusia yang paling sedikit "mencipta" bagi peradaban manusia. Manusia kebanyakan manja karena memilih hidup bahagia, hidup sederhana dan simpel, tidak berani mengambil tikungan-tikungan tajam, jalan-jalan gelap, maupun lautan-lautan tanpa ujung karena hanya bermain di wilayah pendapat umum dan wilayah mayoritas yang nyaman.

Itu adalah dua jenis klasifikasi manusia yang ditawarkan Nietzsche. Nietzsche berkata, jumlah orang kaya, jumlah orang pintar, jumlah orang baik, bisa saja terus meningkat, bisa saja bisa dikatakan lebih banyak dari jumlah orang miskin, orang bodoh, orang buruk dan seterusnya, tetapi jumlah dari manusia unggul akan selalu sedikit. Manusia unggul adalah spesies yang langka. Yang hanya terdapat satu atau dua saja di dalam kelompok-kelompok besar manusia.

manusia yang terus menerus berfikir dirinya adalah budak ( slave morality ) akan melemahkan ras manusia itu sendiri, dan yang menanti di ujung hanyalah sebuah kehancuran ras manusia itu sendiri, dimulai dari bencana besar yang terjadi jika orang-orang unggul ( yang notabene jumlahnya lebih sedikit ) menemukan sebuah tatanan dan pemikiran kehidupan baru, yang membunuh dan memusnahkan secara total pemahanan ketuhanan yang lama dengan yang baru ( atau lebih tepatnya ketuhanan yang tanpa tuhan ) manusia unggul yang telah dengan baik menyiapkan dirinya pasti akan bertahan, tapi bagaimana dengan mayoritas manusia pada umumnya?
ask to your self,
jika apa yang kalian percayai itu runtuh, kemana lagi kalian akan "mengemis kehidupan"?
apa kalian bisa bertahan?
genosida bukan hanya sebuah pandemi ( yang saat ini "mungkin" saja sudah berjalan sedikit demi sedikit ), tapi juga wabah yang menyerang tatanan dan menghancurkan ras manusia berdasarkan pemikirannya sendiri.
dan yang bertahan dari bencana ini hanyalah orang-orang unggul yang akan membangun tatanan kehidupan baru ( new world order ), dan yang musnah adalah korban yang dibutuhkan untuk menjadi fondasi kehidupan baru secara sendirinya ( kill a million to save a billion )