THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Jumat, 15 Januari 2010

yang manakah kalian?

Menjadi Manusia Kebanyakan atau Menjadi Manusia Unggul [Regelmäßiger Mann zu sein, oder überlegener Mann zu sein]

Tulisan kali ini memiliki kaitan dengan pemikiran Friedrich Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra, salah satu buku yang menjadi simbol awal kehancuran modernisme [dunia yang mengganggap bahwa kebenaran hanya ada "satu"], dan pengantar ke dunia postmodernisme [dunia yang mengganggao bahwa terdapat pluralitas kebenaran].

Dalam Thus Spoke Zarathustra -nya, Nietzsche berkali-kali menyindir tentang mayoritas manusia zaman sekarang, yang terlalu puas dengan dirinya sendiri, dan terlalu puas dengan kondisi sosial yang membentuk dirinya.

Nietzsche menekankan pentingnya peran seorang individu dalam dua hal:
1. Mendobrak batas-batas baik dan buruk dirinya sendiri. Untuk menjadi individu yang "melebihi" dirinya sendiri. "Melebihi" ekspektasinya sendiri. Menjadi ubermensch.
2. Membentuk "nilai-nilai". Daripada mencoba mengikuti "nilai-nilai masyarakat kebanyakan", Nietzsche merindukan individu yang yang membentuk nilai-nilai, berupaya mendobrak tatanan nilai yang sudah mapan, dan muncul ke permukaan dengan nilai-nilainya tersebut, untuk menjadi "cahaya" yang menerangi peradaban manusia, yang kata Nietzsche, sudah "diinfiltrasi" oleh terlalu banyak kehadiran tuhan-tuhan palsu.
Dan ketika seorang individu telah melebihi dirinya sendiri, bahkan dalam terminologi baik dan buruk sekalipun, serta membentuk nilai-nilai yang baru, nilai-nilai yang "tidak sama" dengan nilai masyarakat kebanyakan, ada tugas-tugas yang lebih spesifik bagi sang manusia unggul tersebut.
Yaitu:

Membunuh tuhan-tuhan palsu
Minimal dilakukan dalam diri sendiri, untuk kemudian, menjadi contoh bagi orang-orang yang lain tentang buruknya efek tuhan-tuhan palsu. Tuhan palsu yang dimaksudkan Nietzsche di sini adalah "kesepakatan-kesepakatan" "pendapat-pendapat umum" baik yang tertulis, maupun yang tidak tertulis. Baik yang "melembaga" maupun "tidak melembaga namun mengakar secara tradisional". Tuhan-tuhan palsu ini, menjadi "ruh" yang dipuja-puji dalam kehidupan manusia, menggantikan Tuhan yang Esa. Karena itu, manusia harus muncul ke permukaan, untuk membunuh tuhan-tuhan palsu.

Seperti yang diutarakan sebelumnya, Nietzsche mengungkapkan, terdapat dua jenis manusia, manusia unggul dan manusia kebanyakan.
Klasifikasi yang diberikan Nietzsche ini, tidak sama dengan klasifikasi hitam-putih yang terdapat di dunia masa kini seperti kaya-miskin, baik-buruk, sukses-gagal. Klasifikasi dari Nietzsche ini melampaui konsep-konsep sederhana dari realitas.

Nietzsche menyatakan bahwa kesuksesan sejati adalah kesuksesan yang dibawa oleh manusia unggul. Manusia unggul hidup berdasarkan nilai yang dicita-citakan, membuat dunia sekitarnya lebih berwarna, dan hidup dengan "memberi kehidupan" kepada banyak orang, bukan dengan "mengemis kehidupan". Namun, di lain sisi, manusia unggul memikul beban yang sangat berat. Beban dari nilai-nilai yang ditanggungnya, beban dari masalah-masalah sosial yang tidak terselesaikan dan/atau tidak dapat dilihat oleh mata orang-orang biasa.

Sebagai antitesis dari manusia unggul, ialah manusia kebanyakan. Menurut Nietzsche, manusia kebanyakan adalah manusia yang sering mengakui dirinya unik, punya ciri khas, ingin diakui, ingin bahagia, ingin selamat, ingin harmonis, tapi selalu mengekor di balik bayang-bayang mayoritas, dan menutupi ego-egonya yang berbahaya dengan label "legalitas di mata mayoritas". Manusia kebanyakan adalah golongan manusia yang paling sedikit "mencipta" bagi peradaban manusia. Manusia kebanyakan manja karena memilih hidup bahagia, hidup sederhana dan simpel, tidak berani mengambil tikungan-tikungan tajam, jalan-jalan gelap, maupun lautan-lautan tanpa ujung karena hanya bermain di wilayah pendapat umum dan wilayah mayoritas yang nyaman.

Itu adalah dua jenis klasifikasi manusia yang ditawarkan Nietzsche. Nietzsche berkata, jumlah orang kaya, jumlah orang pintar, jumlah orang baik, bisa saja terus meningkat, bisa saja bisa dikatakan lebih banyak dari jumlah orang miskin, orang bodoh, orang buruk dan seterusnya, tetapi jumlah dari manusia unggul akan selalu sedikit. Manusia unggul adalah spesies yang langka. Yang hanya terdapat satu atau dua saja di dalam kelompok-kelompok besar manusia.

manusia yang terus menerus berfikir dirinya adalah budak ( slave morality ) akan melemahkan ras manusia itu sendiri, dan yang menanti di ujung hanyalah sebuah kehancuran ras manusia itu sendiri, dimulai dari bencana besar yang terjadi jika orang-orang unggul ( yang notabene jumlahnya lebih sedikit ) menemukan sebuah tatanan dan pemikiran kehidupan baru, yang membunuh dan memusnahkan secara total pemahanan ketuhanan yang lama dengan yang baru ( atau lebih tepatnya ketuhanan yang tanpa tuhan ) manusia unggul yang telah dengan baik menyiapkan dirinya pasti akan bertahan, tapi bagaimana dengan mayoritas manusia pada umumnya?
ask to your self,
jika apa yang kalian percayai itu runtuh, kemana lagi kalian akan "mengemis kehidupan"?
apa kalian bisa bertahan?
genosida bukan hanya sebuah pandemi ( yang saat ini "mungkin" saja sudah berjalan sedikit demi sedikit ), tapi juga wabah yang menyerang tatanan dan menghancurkan ras manusia berdasarkan pemikirannya sendiri.
dan yang bertahan dari bencana ini hanyalah orang-orang unggul yang akan membangun tatanan kehidupan baru ( new world order ), dan yang musnah adalah korban yang dibutuhkan untuk menjadi fondasi kehidupan baru secara sendirinya ( kill a million to save a billion )

0 komentar: